• Mr. Franck Viault (Head of Cooperation), Ms. Marja Daffern (Deputy Head of Finance, Contracts and Audit) and Mr. Giovanni Serritella (Programme Manager for Environment, Climate change and FLEGT-VPA) of the EU Delegation to Indonesia, Brunei Darussalam and ASEAN visited the base camp of the Elephant Patrol Unit (EPU), which is managed  and operated by LIF, at Aras Napal on Thursday, 16 April 2015. More

  • Seven of the world's rarest rhinoceroses have been found in a national park in Indonesia. This is the first time the creatures have been seen in 26 years. Deforestation is still pushing the Sumatran toward extinction.

    Hidden cameras buried deep in an Indonesian national park have snapped images of seven critically endangered Sumatran rhinos. The rhinos haven't been seen in more than a quarter of a century and conservationists had feared the Sumatran was extinct. But, six females and one male rhino are now known to live in the Mount Leuser National Park, which is on the northern tip of Sumatra. More

  • The Leuser Management Unit (LMU), while implementing the Leuser Development Programme (funded jointly by the EU and GoI), officially launched the Elephant Patrol Unit (EPU) in Aras Napal on 9 May 2000 and this was the first of its kind in Indonesia. More

  • The Conservation Response Unit (CRU) will mitigate human-elephant conflicts. This Unit has four trained elephants under the supervision of a mahout provided by the Natural Resources Conservation Agency (BKSDA). The project will support the initial cost for the infrastructure development of the CRU and also support its operational costs until 2016. The elephants will be supported and the local community will participate in monitoring wildlife conflicts and illegal forestry activities. More

  • Dr. Jamal Gawi, MES, Chairperson of the Board of Directors of Leuser International Foundation, participated in a discussion on Tigers (Wildlife Protection Series) at @america Pacific Place in Jakarta on Wednesday, 1 October 2014. More

    http://leuserfoundation.org/index.php?option=com_content&view=article&id=194:lif-participates-in-discussion-on-tigers&catid=1:latest-news&Itemid=86

Tripa

METODE ANALISIS POTENSIAL LAHAN DI RAWA TRIPA

UNTUK DIJADIKAN KAWASAN LINDUNG (“DIHIJAUKAN”)

 

Analisis ini bertujuan untuk memetakan kawasan potensial untuk dijadikan kawasan lindung dan atau hutan lindung menggunakan teknik penginderaan jauh dan analisis SIG. Bahan utama analisis untuk tujuan tersebut adalah citra digital Landsat ETM+ tahun 2009 dan 2010 dan data sekunder peta. Kawasan potensial untuk dijadikan kawasan lindung dan atau hutan lindung ini diperoleh dengan mengevaluasi lahan yang memiliki kriteria sebagai kawasan lindung. Konsep evaluasi lahan tersebut didasarkan pada penilaian karakteristik lahan (parameter) berupa ada atau tidaknya konsesi perkebunan (HGU), kedalaman gambut, tutupan lahan, tutupan hutan, sistem lahan, satuan lahan (tanah), fungsi hutan dan batas Kawasan Ekosistem Leuser.

Secara garis besar, analisis ini melalui 2 tahapan. Tahap pertama yaitu pengolahan citra digital, tahap kedua adalah analisis Sistem Informasi Geografis (SIG). Pengolahan citra digital meliputi, yaitu (1) pengolahan awal yang terdiri dari koreksi geometrik citra, penyusunan citra komposit dan penajaman citra dengan teknik perentangan kontras (Contrast Stretching), (2) penerapan transformasi HSI (Hue, Saturation and Intensity) untuk fusi citra (image fusion) melalui metode pan-sharp dan interpretasi visual dengan digitasi layar (on screen digitation) untuk memperoleh data tutupan lahan dan tutupan hutan.

Sedangkan analisis SIG dilakukan dengan meng-overlay semua layer parameter lahan yang digunakan dengan metode pengharkatan (scoring) untuk memperoleh peta akhir, yakni peta potensial lahan untuk dijadikan kawasan lindung, dimana parameter yang memiliki pengaruh dan kesesuaian lebih tinggi untuk dijadikan kawasan lindung diberi harkat lebih besar. Hasil dari pengharkatan tiap parameter kemudian dikelompokkan menjadi empat kelas lahan potensial untuk dijadikan kawasan lindung, yang diperoleh dari selisih antara harkat total tertinggi dengan harkat total terendah yang kemudian dirasiokan dengan jumlah kelas yang diinginkan. Penentuan kelas kawasan potensial dirumuskan sebagai berikut :

 

Interval Kelas = Nilai skor tertinggi – nilai skor terendah

                             Jumlah kelas potensial lahan

 

 

……………….. (1)
 

 Tabel 3.12. Klasifikasi Kawasan Potensial Untuk Rehabilitasi Mangrove

Kelas

Kriteria

Harkat

I

Sangat Potensial

14 - 18

II

Potensial

19 - 23

III

Cukup Potensial

24 – 28

IV

Kurang Potensial

29 – 33

 

Pada dasarnya metode overlay pengharkatan ini bertujuan agar data terkuantisasi dalam kelas, sehingga dapat terlihat urutan prioritasnya untuk peruntukkan tertentu. Kriteria pengharkatan disesuaikan dengan tujuan dari analisis dan beberapa diambil dari peraturan perundangan mengenai penetapan kawasan lindung.

Adapun parameter lahan dan kriteria pengharkatan yang digunakan dalam analisis ini adalah sebagai berikut : Tabel 1. Data yang digunakan dalam Analisis Potensial Lahan untuk dijadikan Kawasan Lindung (“dihijaukan”)

No.

Data

1

Konsesi HGU

2

Kedalaman Gambut

3

Penggunaan Lahan

4

Tutupan Hutan

5

Sistem Lahan

6

Fungsi Hutan

7

Kawasan Ekosistem Leuser

Tabel 2. Harkat Data Konsesi

No.

Konsesi

Harkat

1

HGU

1

2

Non HGU

5

Tabel 3. Harkat Data Kedalaman Gambut

No.

Kedalaman Gambut

Harkat

1

Bukan Gambut

1

2

< 2

3

3

> 2

5

Tabel 4. Harkat Data Penutup Lahan

No.

Penutup Lahan

Harkat

1

Pemukiman, Area Kota, Perkebunan Sawit

1

2

Sawah Irigasi, Kebun Campur

2

3

Singkapan Pasir, Singkapan Tanah, Padang Rumput, Semak belukar, Danau, Sungai

3

4

Hutan Primer, Hutan Sekunder

4

5

Hutan Rawa

5

Tabel 5. Harkat Data Tutupan Hutan

No.

Tutupan Hutan

Harkat

1

Non Hutan

3

2

Hutan

5

Tabel 6. Harkat Data Sistem Lahan

No.

Sistem Lahan

Harkat

1

Teweh, Koto Tinggi

1

2

G.Gadang, B. Balang, B. Ayun, B. Anai, B. Barangin, B. Masung, Maput, Luang, Telawi, Pendreh, B. Pandan

2

3

Lubuk Sikaping, Lawanguang, S. Mimpi

4

4

Sebangau, Banjah Bekasik, Puting, Bakunan, Sikladi Panjang, Pulau Rotan, Kajapah, Banjah Lawas, Kahayan, D.Paya Laot

5

 Tabel 7. Harkat Data Fungsi Hutan

No.

Fungsi Hutan

Harkat

1

Area Penggunaan Lain

1

2

Danau/Laut Air

2

3

Hutan Lindung

5

Tabel 8. Harkat Data Batas KEL

No.

Kawasan

Harkat

1

KEL

5

2

Diluar KEL

3

Adapun hasil dari analisis berupa data luasan setiap kelas potensial lahan dan peta, seperti yang terlihat pada tabel 9 dan gambar 1.

Tabel 9. Luasan masing-masing kelas potensial lahan untuk dijadikan kawasan lindung di Rawa Tripa

KELAS POTENSIAL LAHAN

LUAS (Ha)

TOTAL

NAGAN RAYA

ACEH BARAT DAYA

Kurang Potensial

1.140,65

0

1.140,65

Cukup Potensial

7.976,58

2.818,47

10.795,04

Potensial

23.449,76

19.218,47

42.668,23

Sangat Potensial

2.812,80

1.748,27

4.561,07

Total

35.379,79

23785,21

59.165,00